Orang yang normal pada dasarnya memiliki kepribadian relatif paling tangguh sehingga tekanan yang seekstrim apapun akan membuat orang normal mampu mengatasinya.Kata normal merupakan istilah relatif,artinya apa yang diterima disuatu lingkungan bias dipertimbangkan sebagai suatu yang tidak normal di komunitas lain.
Orang yang dewasa dan normal memiliki kemampuan menganalisis diri dan tegas berupaya mencapai kematangan emosional,dan menjadikan emosinya berada dibawah kendali intelektualnya.[1]Bagaimanakah jika suatu masyarakat itu menjadi tidak normal?dan yang normal menjadi normal?
Dalam sejarah Eropa dimana hiburan masyarakat waktu itu adalah menyaksikan pertandingan manusia dan binatang buas,mereka adalah laki-laki,perempuan,tua,muda berdesak-desakan ingin menyaksikan pertunjukan itu sampai akhirnya manusia malang itu jatuh terkapar.
Problem kemunduran social atau dekadensi moral,khamar,judi,kezaliman dan kediktatoran,bukan masalah yang terjadi pada zaman jahiliyah saja,untuk itulah pentingnya kenabian dan peranannya serta tabiat misi para nabi.”Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (al-anbiya 107).
Kalimat La ilahha ila lah Muhammadu Rasullullah,membebaskan penyembahan manusia terhadap manusia.Syariat yang di bawa Nabi Saw adalah bagaikan air penyembuh haus dan lapar.
Syariat adalah sebagaimana hukum air,dan para fuqoha tidak gagal dalam membagun system aturan keduniaan tingkat tinggi ,yang menlingkupi keseluruhan bidang yang dipersepsikan dunia masa kini sebagai “hukum”. [2]
Seorang penyair arab mengumpamakan orang muslim yang tidak mejalankan syariatnya,bagaikan onta yang mati kehausan sedang air dan makanan di atas punggungnya.[3]
Saat Manusia dilanda bencana neurotik dan kondisi mental yang sangat parah,Allah mengutus seorang dokter untuk segera memberi pertolongan dan mengobatinya penyakitnya sampai keakar-akarnya.
Kejahiliahan bukanlah kasus individual,namun anggota-anggotanya yang bergerak sebagai sebuah kesatuan,yang sebagian menjadi pemimpin sebagian yang lain,oleh karena itu kita harus menghadapi kejahilahan dengan kesolidan yang sama,sehingga tidak mudah difitnah,dan segalanya kembali pada Allah.Oleh karena itu kita harus mengambil pelajaran dari sikap Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya dengan gerakan mereka di Makah dan Madinah dengan tuntunan Al-Quran untuk kemudian dibentuk kembali konsep jamaah mukminin,[4]
